Layanan Nasabah Bank Universal BPR di ruang prioritas kantor Pantai Indah Kapuk
TANGERANG SELATAN, 19 Oktober 2026 — Universal BPR membukukan laba bersih Rp18,3 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut tumbuh 115,61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY). Di tengah ekspansi bisnis, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net bank tercatat 1,89% pada akhir September 2026.
Kinerja itu juga ditopang pertumbuhan aset sebesar 10% YoY menjadi Rp2,4 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) naik 18% YoY menjadi Rp1,9 triliun, mencerminkan meningkatnya penghimpunan dana masyarakat melalui produk simpanan bank.
Ada sisi lain dari pertumbuhan tersebut: lebih dari 86% kredit Universal BPR disalurkan untuk kegiatan produktif. Porsi ini menunjukkan arah pembiayaan bank yang berfokus pada kebutuhan modal dan pengembangan usaha, bukan semata-mata kredit konsumsi.
Direktur Utama Universal BPR, Reyhan Satyahadi, mengatakan ekspansi perusahaan perlu diimbangi dengan fondasi bisnis yang sehat dan layanan yang relevan bagi nasabah.
“Pertumbuhan bagi kami bukan hanya tentang pencapaian angka, tetapi juga bagaimana memastikan bisnis berkembang dengan sehat dan memiliki relevansi jangka panjang. Kami terus melihat peluang untuk mengembangkan layanan, memperkuat kolaborasi, serta memperluas akses pembiayaan agar dapat memberikan nilai tambah bagi nasabah dan mendukung aktivitas ekonomi,” ujar Reyhan.
Kualitas kredit menjadi perhatian
Rasio NPL net sebesar 1,89% menjadi salah satu indikator yang menonjol dalam laporan kinerja Universal BPR pada September 2026. Rasio ini menggambarkan bagian kredit bermasalah dalam portofolio pinjaman bank. Angka tersebut perlu dilihat bersama indikator keuangan lainnya untuk menilai kesehatan bank secara menyeluruh.
Universal BPR menyatakan tetap mengutamakan analisis kelayakan debitur, pemantauan kualitas portofolio, dan pengelolaan risiko dalam penyaluran kredit. Dengan pendekatan tersebut, bank berupaya menjaga kualitas pembiayaan seiring pertumbuhan bisnis.
Lebih dari 86% kredit mengalir ke kegiatan produktif
Penyaluran pembiayaan ke sektor produktif juga menjadi bagian penting dari strategi Universal BPR. Kredit untuk kegiatan usaha dapat membantu pelaku bisnis memenuhi kebutuhan modal kerja, mendukung investasi, dan memperluas aktivitas operasional.
Selain penyaluran kredit secara langsung, Universal BPR mengembangkan kerja sama pembiayaan dengan BPR lain, termasuk melalui skema sindikasi. Model ini membuka peluang pendanaan untuk kebutuhan usaha berskala lebih besar dengan tetap mempertimbangkan kelayakan bisnis dan risiko pembiayaan.
Siapkan QRIS, rekening digital, dan deposito online
Untuk 2027, Universal BPR menyiapkan dua pengembangan: Kredit Usaha Inklusif (KUI) dan Universal Mobile Plus. KUI diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Sementara itu, pengembangan Universal Mobile Plus direncanakan mencakup pembayaran melalui QRIS, pembukaan rekening secara online, serta pembukaan dan pengelolaan deposito secara online. Fitur-fitur tersebut masih berupa rencana pengembangan, bukan pengumuman bahwa seluruh layanan telah tersedia saat ini.
Melalui pertumbuhan dana masyarakat, pembiayaan produktif, dan pengembangan layanan digital, Universal BPR menargetkan penguatan bisnis yang tetap berpijak pada prinsip kehati-hatian dan kebutuhan nasabah.






